Mengapa Rasulullah Suci dari Celaan dan Hinaan

Nabi Muhammad SAW

Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA

Para ulama semenjak dahulu, sejak masa sahabat hingga hari ini, sepakat bahwa menghina dan melecehkan Rasulullah dihukumkan murtad, bukan tanpa dasar dalil dan hujjah yang tidak kuat.

Ada banyak dalil di dalam al-Qur’an, hadits taqriry serta kisah sahabat yang menunjukkan kewajiban pembelaan terhadap Rasulullah serta upaya meninggikan kemuliannya.

Bahkan, ada diantara para ulama yang menuliskan kitab khusus pembelaan terhadap Rasulullah dan menyatakan hukum-hukum tertentu atas pencela dan penghina Rasulullah.

Diantaranya, Kitab “Saiful Maslul ‘Ala Man Sabb ar-Rasul” (السيف المسلول على من سب الرسول) yang artinya “Pedang Terhunus Atas Orang yang Mencela Rasul” karya Imam Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafie as-Subkiy.

Ada lagi kitab “As-Saifi al-Jaly ‘Ala Man Sabbi an-Nabi” (السيف الجلي على من ساب النبي) karya Imam Muhadits Muhammad Hasyim bin Abdul Ghafour as-Sindy at-Tatwi al-Hanafy. Dua kitab tersebut alhamdulillah, ada saya miliki.

Dalam kitab-kitab tersebut jelas banyak sekali dalil-dalil dan hukuman bagi para pencela Nabi Muhammad yang berakhir dengan hukuman hingga qishash, jika si pencela masih tidak mau bertaubat. Nanti sewaktu-waktu saya akan kupaskan isi kitab-kitab tersebut secara khusus.

Jika demikian, pertanyaannya apakah sedemikian garangnya kah umat Islam? Sehingga nabi yang lemah lembut dan pemaaf sekalipun memaafkan jika dihinakan. Bukankah Nabi Muhammad mengajarkan sifat pemaaf dan kasih sayang?

Tidak! Bukan begitu cara memahami agama Islam!

Jadi, dalam memahami kedudukan kemuliaan serta pembelaan terhadap Rasulullah harus kita dudukkan dalam konteks syariat yang tepat.

Oleh karena itulah, mengapa pembahasan tentang bab akhlak dikategorikan dalam ilmu tashawuf dan bab pembahasan ilmu syariat dikategorikan dalam ilmu Fiqh?

Para ulama membagi dan mengklasifikasikan keilmuan, bukan tanpa tujuan. Salah satu tujuannya, agar umat Islam mampu mempetakan dan mengamalkan risalah agama yang sempurna ini secara tepat dan sesuai tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya.

Dalam memahami hukum syariat, jangan membenturkan antara hukum syariat itu sendiri dengan kemuliaan pribadi akhlak baginda Rasulullah yang mulia. Sebab, jika pemahaman Islamnya, sepotong-sepotong maka akan menjadi rancu dan kontradiktif. Kacau jadinya!

Allah Swt dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, menegaskan bahwa Rasulullah merupakan simbol syiar kemuliaan dan keagunggan Islam. Diantaranya:

1. Keutamaan Nabi Muhammad Diatas Segala Keutamaan.

Allah berfirman pada surah al-Ahzab: 6

ٱلنَّبِیُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِینَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ

“Nabi itu lebih utama daripada kaum muslimin dari diri mereka…”

Hukum seorang muslim membela saudaranya sesama muslim saja itu hukumnya wajib.

Terlebih lagi, jika kedudukan nabi Muhammad itu lebih utama dari semua kedudukan kaum muslimin, maka pembelaan terhadap Nabi Muhammad harus lebih utama dan wajib hukumnya daripada pembelaan kaum muslimin, bukan?

2. Membela Rasulullah Mendatangkan Pertolongan Allah Itu

Allah berfirman pada surah at-Taubah: 40

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ

“..melainkan sekiranya engkau menolong nabi Muhammad, maka niscaya Allah akan memenangkannya..”

MembelaRasulullah dari celaan dan hinaan orang-orang yang membencinya sebagai bukti pembelaan terhadap agama Allah dan bukti kecintaan terhadap Rasulullah.

Tidak ada orang yang bisa diam dan merasa tenang-tenang saja, jika kekasih hatinya yang dicintainya dihinakan, kecuali hatinya mati dan termasuk orang-orang yang berperangai munafik.

3. Membela Rasulullah Pertanda Keimanan yang Shidiq (Benar).

Allah berfirman pada surah al-Fath ayat 9:

لِّتُؤۡمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ

“…agar kalian semua mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan mau membela agama-Nya dan memuliakan-Nya.. ”

Pembelaan terhadap pribadi Rasullullah maupun ajarannya merupakan perintah sebagai bukti keimanan yang kuat dan lurus.

4. Bersuara Keras Saja Sudah Termasuk Menyakiti Rasulullah. Ini Adab yang Harus Dijaga Seorang Muslim

Allah berfirman pada surah al-Hujurat: 4

إِنَّ ٱلَّذِینَ یُنَادُونَكَ مِن وَرَاۤءِ ٱلۡحُجُرَ ٰ⁠تِ أَكۡثَرُهُمۡ لَا یَعۡقِلُونَ

“Wahai Muhammad, orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar tidurmu, sebagian besar mereka tidaklah menggunakan akalnya.”

Memanggil Rasulullah dengan ucapan yang kasar saja tidak diperbolehkan dan termasuk su’ul adab terhadap Rasulullah, terlebih lagi membiarkan dan tidak peduli terhadap orang lain yang menghinakan beliau.

5. Al-Qur’an Memperingatkan Agar Tak Menyakiti Rasulullah

Pada surah al-Ahzab 53 Allah berfirman:

إِنَّ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ كَانَ یُؤۡذِی ٱلنَّبِیَّ فَیَسۡتَحۡیِۦ مِنكُمۡۖ

“Sesungguhnya perbuatan kalian boleh jadi menyakiti hati beliau, tapi Nabi sendiri malu mengatakan kepada kalian..”

Redaksi ayat diatas merupakan ungkapan khusus yang dikehendaki hukum umum (يعتبر العام ويراد الخاص) dalil yang diungkapkan secara khusus, akan tetapi menjadi dalil yang menunjukkan dalil secara umum bahwa apa pun sikap atau perbuatan yang menyakiti Rasulullah hukumnya terlarang.

Semua itu berdasarkan ada banyak dalil dalam al-Qur’an yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Sedangkan dalil hadits pun tak terhingga jumlahnya.

Bagaimana mungkin kita membiarkan para pencela menghinakan Rasulullah, sedangkan:

√ Allah pun memuji dan menyanjung serta memuliakannya. [QS. al-Qalam:4 ]
√ Allah serta para malaikat senantiasa bershalawat kepadanya [QS. at-Taubah: 128].
√ Bulan terbelah dihadapannya dan bersaksi atas kerasulannya. [HR. Bukhari Muslim]
√ Batu dan pohon bersyahadah mengakui kenabiannya. [HR. ad-Dailamy dan Ibnu Hibban]
√ Rasulullah kelak akan bersaksi dan memberi syafaat seluruh umatnya, sementara nabi-nabi yang lain pun tidak lagi mempedulikan umatnya. [HR. Bukhari Muslim]

Masih banyak kisah-kisah penghinaan Rasulullah yang menunjukkan adanya perlawanan yang ditaqrir oleh Rasulullah, seperti perlawanan Hasan bin Tsabit dengan syairnya yang direstui oleh Rasulullah untuk membalas celaan kaum musyrikin Mekkah.

Begitu pula, kasus penghinaan Sa’ad bin Abi Sarh yang memutarbalikkan penulisan al-Qur’an yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk diqishas.

Demikian juga kisah pencarian para penghina Rasulullah ketika Fath Mekkah seperti Jurm bin Khattal, Miqyas bin Shubabah dan Abdullah bin Sa’ad Abi Sarh yang dicari untuk diberikan hukuman, bukan pembiaran.

Semua isyarat hukuman itu sebagai bentuk dan bagian dari syariat Islam dalam rangka menjaga kemuliaan Rasulullah dan Izzah Islam, tanpa mengesampingkan dan menganulir dengan hadits-hadits kemuliaan akhak Rasulullah, sebab membela dan menegakkan keadilan juga bagian dari ajaran akhlak itu sendiri.

Terakhir, saya ingin menutup dengan sebagaimana perkataan Umar bin Khattab “Wahai Umar, sesungguhnya aku mencintai engkau, ya Rasulullah, tapi tak melebihi diriku!”

Rasulullah tersenyum, “Tidak wahai Umar! Hendaknya engkau melebihkan cintamu melebihi dirimu sendiri!”

Umar terdiam dan kemudian berpaling.

“Wahai Umar, sesungguhnya aku mencintai engkau, ya Rasulullah, melebihi
segalanya!” Sekarang benar kecintaanmu wahai Umar.” [HR. Bukhari].

Bagaimana mungkin kita mengatakan cinta, sedangkan hati kita merasa tak terusik oleh hinan dan celaan terhadap Rasulullah?

Semoga kita termasuk para umat nabi yang benar-benar dengan kesungguhan mencintai serta membela Rasulullah dengan penuh kecintaan.

Allahumma shalli ‘ala sayidina Muhammad wa aala aali sayyidina Muhammad. Allahummanshur diina nabiyyina. Allahumma syahidnaa..

KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.

Related Posts