Politik Psikopat Prabowo, Bahaya 22 Mei 2019 and Beyond

Ilustrasi Foto (Tempo)
 Penulis: Ninoy N
Karundeng

Atorcator.Com –
Secara manusiawi pantas Prabowo menangis. Sedih. Guling-guling. Dia
adalah pahlawan yang terbuang. Untuk tidak mengatakan sampah politik Indonesia.
Tiga kali maju, tiga kali kalah. Suatu derita tak berkesudahan. Nafsu berkuasa,
dengan tujuan balas dendam politik ada di benaknya. Dia adalah psikopat,
seperti yang disampaikan oleh Jenderal Agum Gumelar.
Buktinya?
Banyak. Salah satunya, di depan publik dia suka mengancam orang lain. Dia
mengancam-ancam wartawan. Media massa pun diancam. Semua media massa dia pikir
bisa dikendalikan. Ketika acara kampanye terselubung acara 212 di Monas tidak
diliput media, dia mencak-mencak. Tidak mau terima ketika Kompas tidak
memberitakan secara masif.
Kalau masa dulu,
bukti dia psikopat adalah SBY pernah digebuki ketika sekolah di AMN Magelang.
Itu sebabnya dia mundur setahun dari kelulusan normal. Dia dihukum karena
menghajar SBY sampai sengkleh.
Otak sengkleh
Prabowo menghajar badan besar tapi lemah milik SBY. SBY tidak memberikan
perlawanan karena dia paham hukum. Dia dianiaya. Prabowo dihukum. Sejak saat
itu SBY adalah pelaku strategi politik jempolan. Dan, dia selalu mengatakan
taat hukum, konstitusional. Dan, Gubernur AMN waktu itu Sarwo Edhie Wibowo –
calon mertua SBY.
Studi dari
Universitas Wisconsin-Madison menemukan kelainan otak pada psikopat. Otak
psikopat pada bagian vmPVC ( ventromedial prefrontal cortex) dengan amygdala
putus. Padahal vmPVC – kayak nama pralon air ya – adalah alat kontrol perasaan
seperti empati dan rasa bersalah.
Makanya,
Prabowo tidak pernah merasa bersalah. Menculik tidak mengaku. Memukuli orang
tidak merasa bersalah. Memaki-maki wartawan pun tidak merasa bersalah. Dia
hidup di dunianya sendiri, menurut aturan otaknya sendiri. Bukan hukum. Bukan
konstitusi. Makanya dia tidak bisa diatur. Oleh siapa pun. Makanya dia tidak
memiliki teman sesungguhnya. Seperti paparan Profesor Mike King.
Orang psikopat
hanya cocok berteman dengan orang yang suka mencari muka. Karena psychopat
hanya senang mendengarkan yang dia suka, tidak ada ukuran nilai (value) dan
aturan.
Maka tak salah,
Prabowo dikelilingi para pengangguran seperti Martak, Fadli Zon, Fahri Hamzah,
Amien Rais, Kivlan Zen, Eggi Sudjana, Ratna Sarumpaet, Neno Warisman. Para
orang sengkleh. Selain kaum pemuja Monas, Monaslimin 212. HTI, khilafah, PKS,
yang semuanya para begundal politik yang licik.
Bahkan agama
dijadikan alat provokasi – dimulai oleh Rizieq dan Ma’ruf Amin untuk menghajar
Ahok, dengan fatwa MUI-nya. (Rizieq jadi pesakitan, Ma’ruf Amin wapres, karena
diangkat derajatnya oleh Tim Kecil Jokowi.)
Fadli Zon
sebagai bagian dari arsitek arsitek Firehose of Falsehood. Ratna Sarumpaet jadi
kaki tangan. Amien Rais, manusia kufur nikmat, menjadi bagian dari arsitek
kekisruhan. Dia seperti Mardani. Membuat rancangan people power. Mardani
membuat hashtag 2019GantiPresiden yang sukses besar, dari sisi neuroscience
politik.
Gerakan people
power didorong oleh Prabowo, Sandi, Amien Rais, dkk. Dasarnya, tidak mau
menerima kekalahan Pilpres 2019, tapi menerima hasil Pileg 2019. Mau enaknya
sendiri. Yang menguntungkan mereka, diakui. Provokasi people power Prabowo
cs sungguh membahayakan. Otak sengkleh mereka mengajarkan jihad, berjuang atas
nama agama. Sampai orang Buddha macam Sungkharisma kepincut juga. Hahaha.
Jumlah orang
waras di Indonesia masih lebih banyak. Orang waras baik kubu 02 atau 01 jelas
tahu pemenang Pilpres 2019 adalah Jokowi-Amin. Perhitungan KPU yang transparan
pun tidak dianggap benar. Karena tidak menguntungkan Prabowo. Bagi Prabowo
hanya yang ada di otaknya yang benar. Lainnya salah.
Silent majority
pendukung Jokowi-Amin siap menghadapi people power. TNI/Polri siaga tegas. Nah,
kubu Prabowo akan menggerakkan massa lebih besar kalau ada korban. Rancangan
untuk membuat chaos – dengan jatuhnya korban pada 22 Mei and beyond. Kenapa?

Lah Fadli Zon tidak mau menerima hasil Pilpres dan tidak mau mengadu ke
Mahkamah Konstitusi (MK). Tujuannya? Makar. Menjungkalkan Jokowi dengan cara
membuat chaos, kerusuhan. Membuat konflik horizontal. Perang sipil. Maka
ketegasan dan kecerdasan TNI/Polri, relawan Jokowi tengah diuji menghadapi para
psikopat dan pecundang.

Related Posts