Lebaran Ketupat Bagi Orang Jawa Serta Makna dan Filosofinya

Penulis: Taufiq Wr Hidayat
_______________
Editor: Moh. Syahri
Publisher: Syarifah Nur Sya’bana




Atorcator.Com – Di Jawa, terdapat penanda hari yang disebut “lebaran ketupat”. Peristiwa ini dirayakan tepat “sepasaran” (lima hari) setelah peringatan Hari Raya Idul Fitri. Ketupat adalah nama makanan yang terbuat dari beras. Juga Lepet, makanan yang terbuat dari ketan. 


Kata orang Jawa, ini hidangan peseduluran (persaudaraan), sebentuk perjamuan sederhana, yang menandakan sikap saling memaafkan dan merelakan di antara sesama yang terdekat: tetangga, saudara, kawan, handai tolan. Sebentuk sikap kemanusiaan yang merelakan, mengorbankan sesuatu buat keselamatan dan kegembiraan orang lain.


Dalam khazanah Islam, gagasan saling memaafkan (‘afifina anin-naas), merelakan, mengentaskan, saling menyelamatkan adalah pokok terpenting ajaran. Kesempurnaan ajaran Tauhid dalam Islam memuarakan pada sikap kemanusiaan tersebut. Para penekun Tauhid menjadikan sikap rela, maaf, dan penyelamatan sebagai puncak tertinggi pengalaman spiritual.


Dalam sekarat, al-Hallaj Asrar, sang penekun Tauhid yang mashur itu, menegaskan kerelaan yang serasa mustahil dilakukan manusia. Tetapi bukankah Allah itu Maha-mustahil? Kemustahilan yang menjadi teladan segala nama-nama-Nya. Cinta yang hingga pada kemustahilan, kasih yang tak mungkin. Sesuatu yang menakjubkan, yang transendental, tetapi yang hidup sebagai imanensi. Al-Halaj—dalam sekarat ketersiksaan di hadapan kekuasaan, berdoa:


“Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau. Muhammad adalah rasul-Mu sejati. Jadikan aku pengikut dan peneladan rasul terakhir yang agung itu. Aku tiada, hanya Engkau ada. Aku ada karena Engkau ada-kan, aku tiada dalam ke-ada-an-Mu yang sejati. Ya Allah, seandainya Engkau hendak menukar surga-Mu dengan waktu bersama-Mu, aku tak mau. Jika Engkau tampakkan neraka dengan segala pedih siksanya, aku hanya secuil memikirkannya dibandingkan keadaanku saat Engkau merahasia dariku. Ampunilah seluruh manusia. Ampunilah orang-orang yang menganiaya, menyiksa, dan membunuhku. Jangan ampuni aku. Berkahilah mereka, dan tak perlu Kau berkahi aku. Berikan kepada mereka surga dan ampunan-Mu. Aku tak mohon ampun pada-Mu untuk diriku sendiri, aku tak mohon berkah pada-Mu buat diriku sendiri. Aku tak pula mohon pada-Mu bagi kebutuhanku sendiri. Lakukan padaku apa pun yang Engkau mau. Amin.”


Doa al-Halaj ini sebagaimana doa Yesus, ketika sebuah paku menembus kedua tangan dan kakinya pada tiang penyaliban: “Bapa, ampuni mereka. Mereka melakukan semua ini karena tidak tahu-menahu”. Pun doa Rasul Muhammad tatkala orang-orang jahat di Thaif mengusir dan menganiaya dirinya dengan batu dan kotoran. “Ya Allah, ampunilah mereka, sebab sesungguhnya mereka benar-benar tidak mengerti”.


Tak ada permaafan jika tak muncul kerelaan di dalam dada. Tak mungkin mengembang kerelaan itu, jika tak ada pengorbanan dan pengabdian bagi penderitaan. Ajaran ini dilakukan Nabi Ibrahim, beliau gariskan itu sebagai ajaran yang menjadi pokok penting aturan hidupnya dengan lurus dan tegas (millata ibrahima hanifa). Tentu saja, setiap zaman memiliki penanda. Punya pembaharu. Dan demikianlah ajaran langit tak akan sirna di bumi. Sebagai mutiara berharga akal-pikiran manusia beserta pengalaman-pengalaman sejarahnya.


Kupat dan Lepet orang Jawa itu berarti mohon maafkan segala “lepat” (salah) dan “luput” (khilaf). Lalu mari makan bersama, lupakan yang lalu. Biar tambah lengket atau mempererat persaudaraan dan saling mengharumkan nama. Lengket dan wangi seperti ketan. Tapi yang tetap menegakkan kebenaran dan tanggungjawab atas segala perbuatan. Menciptakan kesadaran pentingnya menegakkan nilai-nilai kebenaran, namun tidak lupa menyertainya dengan kesabaran (watawa showbil haq watawa showbis shobr).


Kupat dan Lepet adalah jenis makanan lebaran yang dibungkus janur (daun pohon kelapa). Konon kata “janur”, kata kakek, ialah “jaa-nur”, kata dalam bahasa Arab yang berarti “tibalah cahaya”. Inilah yang—meminjam istilah Gus Dur, disebut pribumisasi Islam. Kearifan yang diraih para pendahulu untuk membumikan ajaran agama tanpa mengusik unifikasi lokal, yang kultural, yang partikular.


Ajaran Islam yang murni justru terletak pada “daya tafsir” yang jujur terhadap ruang dan waktu, sikap pribadi yang “membersihkan diri” dengan pengentasan penderitaan, “menegakkan nilai kemanusiaan” dan kesadaran atas nama-nama-Nya yang mahaluhur. Pada Surat al-A’la, dalam tafsir Ibnu Arabi: “qad-aflakha man-tazakka wa dzakar-asma robbihi fasholla” (maka berbahagialah siapa saja yang membersihkan diri dengan pengentasan penderitaan (tazakka) dan meneladani nama-nama Tuhan Pendidiknya (wa-dzakar-asma robbihi) dan menegakkan kemanusiaan/fasholla).


Menjadi jelaslah dengan demikian, ajaran Islam sesungguhnya membuka tafsir dan penyesuaian pada segala ruang dan waktu (al-islamu likulli zaman wal-makan). Pengertian menarik ini meniscayakan pencapaian akal-pikiran dengan ilmu, nilai-nilai, dan keteladanan. Bukan klaim dan keseolah-olahan. Bukan ngaku-ngaku paling tahu Tuhan guna melakukan pembodohan dan meraih kekuasaan.


Tembokrejo, 2019


  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa WongsorejoBanyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi Suluk Rindu (YMAB, 2003), Muncar Senjakala (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi


Related Posts