Mengulas Cinta dan 4 Anjuran Menikahi Wanita.

Penulis: Vanzaka Musyafa
_____________________
Editor: Nailatul Izzah
Publisher: Syarifah Nur Sya’bana


Ilustrasi foto (mata-mata)

Atorcator.Com – Akhir-akhir ini banyak terjadi kesalahpahaman mengenai arti cinta. Bahwa cinta harus memiliki. Tapi pada kenyataannya tidak berani menikahi (dalam konteks cinta lawan jenis). Cinta harus ada bukti. Buktinya malah salah kaprah. Sampai pada perzinaan dan rusaknya etika agama dan sosial.


Supaya kita paham apa cinta itu sebenarnya. Saya akan mencoba mengulas penjelasan cinta baik segi formalnya, aplikasinya dan hubungannya dengan hadis Nabi tentang 4 alasan menikahi seorang wanita. Semoga dapat memahamkan dan bermanfaat.

Dalam teori cinta tidak diperkenankan harus memiliki. Karena keberadaan cinta harus murni tanpa terkontaminasi oleh hal apapun. Misalkan, ketika melihat berbagai barang bagus ditoko, lantas apakah harus membelinya? Kan tidak.
Firman Allah SWT (yang artinya) : “Dan tiadalah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat seluruh alam (al-Anbiya’: 107).

Risalah cinta (rahmat) yang Allah berikan itu murni untuk seluruh alam. Apapun dan siapapun yang ada. Selama alam ini masih ada, risalah cinta harus selalu disampaikan dan tunaikan. Karena, risalah tersebut berlaku sepanjang waktu. Dan tak berbatas oleh ruang dan waktu.

Sabda Rasulullah SAW (yang artinya) : “Demi Allah seorang hamba belum sempurna imannya sebelum dia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas RA). Implementasi cinta di dalam sabda diatas adalah diibaratkan seperti mengasihi diri sendiri. Tanpa pandang apa dan siapa, status dan lawan jenis. Adapun pembahasan cinta dengan lawan jenis akan kami bahas nanti. Insya Allah.

Konklusinya adalah bahwa jika rasa cinta masih diselimuti embel-embel maka, rasa tersebut adalah nafsu berselimut cinta yang endingnya akan kurang baik. Misalkan, memberi uang (dengan alasan shadaqah) kepada anak seorang yang terpandang supaya mendapat perhatian dari sang ayah maka, seperti itulah yang tidak diperbolehkan.

Rahmat (perasaan cinta) dan nafsu (syahwat) sangat berbeda. Pembahasan cinta sudah saya jelaskan diatas. Adapun nafsu, mengutip dari kitab “al-Mursyidul Amin” dalam bab “‘ajaibul qalb” : nafsu adalah “pusat dari kekuatan emosi. Dan nafsu serta segala sifat  tercela yang harus dikalahkan dan yang diperintahkan untuk dikalahkan.”

Di dalamnya juga disebutkan hadis riwayat Tirmidzi:

” أعدى أعدائك نفسك التي بين جنبيك”

Musuhmu yang paling sengit adalah jiwa (nafsu) mu yang ada diantara kedua lambungmu.

Setiap hal yang berakibat merugikan bisa dikatakan sebagai ulah nafsu, karena hal itu adalah perbuatan tercela. Sebaik apapun perbuatan bila tujuannya (kehendak hati) tidak baik maka hal ini tidak dibenarkan. Walaupun dikuatkan dengan ucapan yang baik pula.

Input cinta akan mengeluarkan output bahagia. Begitu pula, Input nafsu akan mengeluarkan output kecewa. Input disini ialah niat dalam hati.
Hadis Nabi SAW:

ان في جسد ابن آدم مضغة، اذا صلحت صلح الجسد كله وصلح لها سائر البدن، الاوهي القلب

Artinya: “Sesungguhnya didalam hati anak Adam itu terdapat segumpal daging. Ketika itu bagus maka seluruh jasadnya akan bagus pula. Itulah hati.”

Dari hadis di atas, jelas sekali bahwa Input (dari hati) seiring menunaikan tindakan harus baik. Sehingga output (tindakan) akan baik pula. Dan hasil dari pekerjaan tersebut menjadi baik. Wallahu a’lam.

Menikah secara lughah adalah mengumpulkan. Mengumpulkan satu hal dengan yang lain. Secara syara’ adalah akad yang menyimpan makna diperbolehkannya “wathi” (jima’) dengan lafadh (sighot) nikah (Fathul Mu’in: 97-98).

Secara fikih formal nikah tidak ada syarat apapun. Intinya adalah mengikat hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada syarat cinta, kaya, cantik, bernasab baik, dan sebagainya.

Lain halnya dengan fikih sosial. Kebiasaan seseorang zaman sekarang menikah pasti ada suatu alasan tertentu. Baik karena sudah cinta, nasab dan sebagainya. Berbeda dengan zaman tahun 60-an ke atas. Biasanya karena dijodohkan.
Dalam sabdanya, Nabi memberi anjuran yakni Empat (4) macam untuk menikahi wanita:

تنكح المرأة لاربع: ولمالهأ، ولحسبها،ولجمالها، ولدينها، فاظفر بذات الدين تريت يداك

Artinya: “wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena hasabnya, karena kecantikannya dan karena agamanya. dapatkanlah yang memiliki agama, niscaya engkau dapat keberuntungan. (HR. Bukhari)

Pertama, karena hartanya. Sudah menjadi naluri, seseorang senang terhadap harta. Dalam surah “attakatsur” telah disebutkan. Bahwa keinginan manusia akan dunia itu sudah ada sejak lahir dan akan berakhir sampai kembali kepada Tuhannya.

Saya akan mencoba memberi tafsiran yang berbeda mengenai alasan yang pertama ini. Arti dari “almal” (harta) adalah suatu yang berharga. Jadi, hendaknya bagi seorang lelaki yang akan meminang seorang wanita, memiliki alasan dan niatan untuk menjaga harga diri seorang wanita.

Mungkin karena melihat zamannya sudah marak adanya free seks. Maka, salah satu upaya melindungi wanita dari free seks tadi adalah menikahinya. Dan tindakan seperti ini termasuk kedalam dakwah “bilhikmah.”

Bukan malah memacari dia (pacaran). Setelah bosan putus, tidak. Seperti itu malah akan memunculkan rasa kekecewaan dan akan timbul perasaan hancurnya harga diri (patah hati) . Sehingga, akan melampiaskannya dengan hal-hal yang tidak baik, seperti salah satunya adalah seks bebas.

Kedua, karena nasab. Redaksi nasab disini memakai kata “حسب” adalah mengindikasikan bagusnya nenek moyang seorang. Dari ayah, kakek, buyut dan keatasnya lagi.

So, alasan kedua bagi seorang laki-laki yang akan meminang seorang wanita, hendaknya memiliki alasan dan/ niatan menjaga nasab seorang wanita. Hal semacam ini biasanya berlaku bagi yang memiliki kesamaan nasab. Seperti Habib (anak laki-laki) dengan Syarifah (anak perempuan).

Bagi yang belum ditakdirkan menjadi cucu Nabi tidak masalah. Masih ada kesempatan memiliki niatan baik yang kedua ini. Seperti contoh seorang santri yang ingin meminang seorang “neng” (sebutan putri Kiai).

Niat yang diambil adalah untuk meneruskan perjuangan ayahnya. Misal, memimpin pesantren. Karena mungkin beliau tidak memiliki keturunan laki-laki. Bukan berarti harus nasab formalnya yang dijaga. Apa artinya bila nasab formal terjaga. Namun, nilai nasab yang lain tidak?

Ketiga, karena kecantikannya. Ust. Rosidin dalam status facebooknya mengatakan: “اومن ينشؤا فيالحلية (azzukhruf: 18) siapkan THR lebih untuk ibu, istri dan puri, karena wanita memang pesolek. Kecantikan sudah menjadi keniscayaan bagi seorang wanita.

Begitu pula seorang laki-laki akan senang melihat kecantikan (keindahan) seorang wanita. Dalam sebuah hadis juga disebutkan “innallaha jaamil wa yuhibbu aljamaal.”

Berhias pun merupakan anjuran dan ajaran Islam (baca al-A’raf 31-32), dianjurkan (sunnah), dan bahkan dalam keadaan tertentu diharuskan, misalnya mau ke masjid atau menghadiri shalat ied.

Poinnya adalah seorang laki-laki harus bisa memiliki niat baik, yakni dengan menikah dengan si “dia” semoga bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Amin…
Keempat, karena agamanya. Agama adalah tuntunan. Sudah menjadi hal wajib seseorang laki-laki harus memilih wanita yang beragama islam. 

Begitu juga sebaliknya. Atau kafir kitabi, yakni non muslim yang masih memegang teguh kitab murni ajaran Nabi terdahulu (kalau konteks zaman sekarang mungkin sudah tiada).

Agama pun jangan hanya dimaknai secara formal. Maksud saya adalah agama itu tidak hanya sebatas shalatnya sregep, puasa oke, tahajjud setiap malam dan sebagainya. Agama juga mencakup ranah akhlak, sosial, dan pendidikan.

Jadi, alasan yang keempat ini adalah alasan sangat kuat. Niat yang sangat baik. Karena cakupannya sangat luas.

Setelah membahas cinta dan perihal nikah. kemudian muncul pertanyaan. mengapa cinta tidak ada didalam anjuran Nabi? Mengapa Nabi tidak memasukkan istilah cinta kedalam hadisnya?

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menjawabnya. Pertama, dalam sejarahnya saya belum menemukan teks yang eksplisit memaparkan bahwa Nabi menikahi istri-istrinya atas alasan/niat cinta. Bahkan Nabi menikahi Aisyah RA pun bukan alasan karena cinta.

Nabi berkehendak supaya kelak Aisyah dapat meneruskan perjuangan Nabi. Artinya menyampaikan hadis-hadis Nabi yang lingkupnya adalah keluarga dan pribadi Nabi sendiri. Karena percaya Aisyah itu masih muda, sehingga dapat hidup lama setelah Nabi wafat.

Kedua, cinta itu bukan tujuan suatu pernikahan. Dalam istilah jawa disebutkan “tresno jalaran songko kulino.” cinta adalah buah dari proses, atau cinta itu adalah sebuah proses itu sendiri (Selengkapnya lihat Tujuan Pernikahan Menurut Kiai Imam Nakha’i……….. )

Proses antara mawadah (aku mencintaimu agar aku bahagia) dan rahmah (aku mencintaimu agar kamu bahagia) sehingga menumbuhkan buah cinta yakni sakinah (cinta itu identik dengan ketenangan jiwa). Ada rasa saling diantara pasangan. Sehingga output rasa pun menjadi cinta yang sesungguh-sungguhnya.
(Lihat selengkapnya 

Bukan berarti nikah nggak perlu cinta, tidak. Tapi cinta itu bukan alasan, niatan, apalagi tujuan suatu pernikahan. Cinta itu adalah keniscayaan. وما أرسلناك الا رحمة للعالمين. Terhadap seluruh alam kita harus cinta.


Cinta adalah perasaan murni yang tidak boleh terkontaminasi oleh hal apapun. Cinta tidak harus memiliki. Apalagi berbentuk materi. Ia adalah sebuah perasaan suci yang dianugerahi oleh Ilahi.
Adapun cinta seorang terhadap lawan jenis itu juga keniscayaan. Namun, agar cintanya tidak memudar dan tetap suci. Ikatlah dia dengan pernikahan. Karena menikah juga termasuk anjuran Nabi.


Ketika dua jiwa sudah saling cinta, silahkan untuk segera melanjutkan kepelaminan. Jika memang sudah siap baik segi fisik, finansial dan sebagainya. “Al-arwah junuudun mujannadah” ruh itu seperti tentara yang ber baris. Jika kode diantara mereka itu cocok, meski terhalang oleh bukit maka akan tetap bersatu.


Ya itulah jodoh. Maka, segeralah ikat dia. Supaya aman dan dapat diajak berjalan bersama mengarungi kehidupan dunia sampai di akhirat kelak. Sehingga disurga memiliki dua kemesraan. Pertama, bisa bermesraan dengan pasangan. Kedua, bermesraan dengan melihat indahnya Tuhan.


Yang masih belajar, seng giat belajarnya. Tidak perlu serius dalam menanggapi cinta lawan jenis. Suka terhadap lawan jenis itu wajar. Yang tidak wajar itu suka sesama jenis. Hhh….


Giatlah dalam belajar. Raihlah prestasi sebesar dan sebanyak mungkin. Persiapkan diri menuju masa depan. Beribadah, berdoa, Mohon lah kepada Allah, mintalah hal baik kepada-Nya tanpa kenal lelah, dan jangan lupa istighfar. 


Bershalawatlah kepada Nabi, sebagai washilah kita kepada Allah dan juga kepada para wali dan ulama’. Dengan washilah Insyaallah panjatan doa kita akan mudah dikabulkan. Amin….


Wallahua’lam bisshawab…

اللهم اني اسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني اليك



Ya Allah aku memohon cintamu, cinta orang-orang yang mencintaimu, serta cinta kepada aktivitas yang dapat mendekatkan diriku kepadamu.



  • Vanzaka Musyafa Pengurus jam’iyah ngaji pegon Malang

Related Posts